Mengenang Jasa dan Perjuangan Soeharto

JAKARTA - Betapa pun dan apa pun Soeharto sudah dialah sosok yang membuat Indonesia penuh warna-warni. Selama lebih kurang 32 Indonesia dipimpinnya. Presiden kedua itu juga telah lebih dikenal dan seperti mudah dihafal bagi rakyatnya ketimbang presiden-presiden penggantinya. Ia juga telah menjadi ikon kuat bukan hanya untuk negaranya tapi juga negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara sampai Asia. Museum Soeharto.

Soeharto yang selalu menyimpulkan senyum itu juga pandai berkata-kata, bahkan penuh istilah dan mengakronimkan ke dalam bahasa yang lebih mudah diingat dan populer di masyarakat: mulai dari istilah untuk pembangunan seperti Repelita (rencana pembangunan lima tahun), Pelita (pembangunan lima tahun), Kelompencapir (kelompok pendengar pembaca dan pemirsa), SKSD (sistem komunikasi satelit domestik), sampai yang mengatasnamakan stabilitas keamanan negara seperti perbuatan subversif atau OTB (organisasi tanpa bentuk).

Gaya bahasa eufimisme yang dikembangkan di era kepemimpinan Soeharto amatlah efektif baik untuk mendekatkan pemerintah kepada masyarakat maupun menjaga agar roda pemerintahan keamanan masyarakat terkendali.

Sepanjang tahun 1970, 1980, dan 1990 adalah masa-masa Museum Soehartokeemasan pemerintahan Soeharto. Begitu banyak program pemerintah yang dijalankan tingkat keberhasilannya seakan-akan seratus persen dari rencana-rencana program pemerintah tersebut.

Kepala negara tetangga juga tampak segan terhadap kepemimpinan Pak Harto, demikian ia lebih akrab disapa. Ukuran mereka boleh jadi tingkat partisipasi dan peran masyarakat terhadap pemerintahan orde baru sangat tinggi. Indikatornya Golkar sebagai partai pemerintah menang mutlak sampai bertahun-tahun lamanya sejak orde baru itu berdiri. Di samping itu, Pak Harto juga dipandang sebagai salah satu kepala negara berusia sepuh di antara negara-negara di Asean.

Gegap gempita pemerintahan Soeharto juga ditandai dengan swasembada pangan dan puncaknya adalah mendapat penghargaan dari Food and Agriculture Organization (FAO) di tahun 1984. Pak Harto dianugerahi sebuah medali bertuliskan ”from rice importer to self sufficiency”.

Beberapa tahun kemudian ia kembali dianugerahi penghargaan dari PBB mengenai kependudukan. Mungkin sekali kedua penghargaan ini dinilai banyak kalangan yang membuat dirinya disebut sebagai bapak pembangunan dan Indonesia disegani dan dianggap salah satu macan Asia.

Namun bagi generasi yang lahir tahun 1990-an, kehebatan Jenderal Besar Soeharto tinggal kenangan. Mereka hanya mendengar kisahnya dari cerita orang-orang tua. Tapi kini bukan berarti tidak bisa melacak jejak sejarah Jenderal Besar Soeharto.

Jejak itu ada di Museum Memorial Jenderal Besar Soeharto yang berada di Kemusuk Argomulyo Sedayu Bantul. Di lahan seluas 3.620 meter persegi, yang terdiri atas bangunan Joglo, rumah Notosudiro, eyang buyutnya HM Soeharto dan juga petilasan, tempat lahirnya HM Soeharto, memori kita akan dibawa menyelami pahit getirnya hingga masa pemerintahannya.

Di museum yang diresmikan oleh Probosutedjo, adik HM Soeharto, serta Hardiyanti Hastuti atau Mbak Tutut, putri sulungnya, terpajang semua perjalanan Jenderal Besar Soeharto mulai dari kelahiran HM Soeharto hingga beliau wafat dan dikebumikan di Astana Giribangun Solo.

Museum SoehartoMemorial Jenderal Besar Soeharto terdiri atas 4 bangunan, yakni rumah Joglo, di tempat ini pengunjung akan disuguhi pemutaran film-film perjuangan Jenderal Besar Soeharto, namun ketika tidak banyak pengunjung dapat untuk bersantai atau mengelar acara lain.

Bangunan lainnya yakni Rumah Notosudiro, di rumah terdiri dari berbagai tampilan, mulai dari foto-foto perjuangan, diorama dan video singkat Soeharto. Bangunan yang lain adalah rumah Atmosudiro serta petilasan,tempat lahirnya HM Soeharto dan di sisi pojok ada sumur yang telah berumur 130 tahun. Sementara di depan bangunan utama atau pendopo terdapat patung berukuran besar, Jenderal Besar Soeharto, berdiri tegak. (sumber:jalanjogja.com)

Post a Comment

0 Comments