Catatan Rahmad Hidayat : Abdi Ngagentosan Bapak

Rahmad Hidayat

HUJAN belum juga sempurna reda. Gerimis lembut membasahi  tubuh dan langkah kaki  mereka.   Barisan Mujahiddin dari Ciamis telah tiba di Bandung. Mereka berada di Jalan Soekarno-Hatta, dan  mungkin rentang aspal terakhir yang dilalui sebelum berhenti di aula Perhutani diujung jalan.

Di sepanjang jalan masyarakat berjaga untuk tidak melewatkan  langkah heroik mereka yang  telah memecah kebisuan dunia. Masyarakat berebut menyalami, makanan dan minuman tersedia , pekik TAKBIR bersahutan.

Di jalan Cileunyi sampai Bundaran Cibiru hingga jalan Soekarno-Hatta masa memadat kiri kanan, Takbir, Tasbih, Tahmid bersahutan. Hujan kecil membasah tubuh adalah rahmat yang dinikmati. 

Mereka berbaur di aula Perhutani. Banyak mata tertuju pada sosok kecil yang masih bocah. Usianya belum cukup sewindu, berjalan kaki dari Ciamis bersama rombongan Mujahiddin. 

Wajah-wajah haru terpancar dari masyarakat Bandung yang mendatangi aula. Silih berganti dan selalu keluar dengan mengusap air mata. 

"Anak itu pasti di utus Allah untuk mengingatkan kami", ujar seorang bapak yang baru menjenguk rombongan didalam.

Mengapa Pak?, tanya kawan seorang jurnalis yang saya mintakan tolong meliput kedatangan para Mujahiddin di Aula Perhutani.  Tadi aku bertanya padanya "mengapa kamu ikut rombongan sedang kamu masih kecil, Ciamis Jakarta bukan jarak yang dekat".  

Anak itu menjawab" "Abdi ngagentosan pun Bapak, Bapak atos ngatunkeun". (Saya menggantikan bapak saya yang wafat). Bapak itu tersandar dikursi teras, sedang wajahnya  sedikit menengadah, mata yang sembab menembus jalinan rinai dipelataran. 
Entah apa yang dibenak Bapak itu, hanya gumanan doa yang kudengar "RABBANA LATAJ'ALNA FITNATAL LIL QAUMIZH ZHALIMIIN (85). WA NAJJINA BI RAHMATIKA MINAL QAUMIL KAAFIRIIN (86) (Yunus:85-86)- Yaa Allah lindungi kami dari Fitnah orang-orang Zalim, dan dengan Rahmatmu kami berlindung dari orang-orang  Kafir Masdjid At Tiin. 1 Desember 2016.
by: Cak Mad

Post a Comment

0 Comments