Jadi Narasumber Pada Diskusi KMI, Ini Kata Pengamat Ekonomi


JAKARTA - Kaukus Muda Indonesia (KMI) bekerja sama dengan BRI menggelar diskusi akhir tahun, Kamis (16/12/2016), di Hall Gedung Dewan Pers jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, dengan tema Refleksi Bidang Ekonomi 2016.

pengamat ekonomi INDEF, Bhima Yudhistira, menjadi narasumber pada diskusi itu menyampaiakan terkait kebijakan negara dalam menangani Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).

Menurutnya, hutang dan sebagainya masih terjadi 'gap' pada tataran konsep dan realitas. Dimana pertumbuhan ekonomi di daerah, nampak ada pelemahan permintaan disini, seperti produk ekspor ekonomi ke China.

"Yang diekspor ke China adalah produk mentah namun saat ini langsung. Hingga tidak dapat dikatakan bila angka kemiskinan menurun. Ditambah lagi gejolak ekpor ke China menurun, maka soft Industri, Kelapa Sawit (CPO) kena imbasnya," Kata Bhima Yudhistira.

Pengamat ekonomi dari INDEF tersebut menyampaikan bahwa Sumber Daya Alam bisa menjadi bencana. "Mesti diingat. Apakah tidak belajar saat di era Suharto terkait Oil (minyak mentah)? Harga minyak tahun 2008 dirasa tenang saja komoditi akan terus berlanjut lalu bikin smelter." ungkapnya.

Tahun 2016  harga oil hancur padahal di tahun 2015 sudah mulai, harga minyak saat di tahun 2015, senilai 20 U$/barrel. Memang kondisinya sekarang menjadi 50 U$/barrel. "Jadi bila ditelusuri harga komoditas enjot-enjotan ini," paparnya.

Efek dan akibat perekonomian begitu cepat dan fatal. "Tampak yang bermain 'spekulan' di bidang komoditas. Walau sempat ada pandangan OPEC bermain maka harga minyak akan terbantu, belum tentu," ungkapnya.

Bhima Yudhistira mengulas pula, bila ditinjau dari situasi Global, efek ini mulai kelihatan semenjak Brexit (British Exit dari Uni Eropa), ditambah lagi sekarang akhirnya Donal Trumph menang pilpres AS bersaing dengan Hillary Clinton.

"Sekarang sosok pemimpin di Perancis dari kaum nasionalis juga didorong hingga fenomena deglobalisasi cukup besar. " Trumph selalu katakan 'AS First, China aja tidak dianggap, apalagi Indonesia ?," Imbuhnya lagi.

(red/shri)

Post a Comment

0 Comments